Begini Indahnya Danau Ranu kumbolo Semeru Sekitar Tahun 1900

Lanskap Danau Ranu Kumbolo Masa lampau ( Dok : Tropen Museum, Amsterdam-NL)

gunung-indonesia.com — “Gunung Semeru, surga bagi para pendaki.”  Begitulah gambaran siapa saja yang pernah menyambanginya. Dimulai dari Desa Ranupani yang bersahaja, Danau Ranukumbolo yang mendamaikan, oro-oro ombo yang romantis, hingga puncak Mahameru yang memberi kesan ‘magis’ bagi siapa saja yang memperjuangkannya

Tak ayal, Dr. Womser seorang pria eropa berkebangsaan Belanda yang pernah mendaki gunung Semeru sekitar tahun 1900, menggambarkan keindahan danau Ranu kumbolo lewat tulisan yang dibuatnya berikut ini :

“Telaga birunya terbentang tanpa gerakan. Sekali-sekali seekor itik liar (Belibis) mengusik permukaan airnya yang licin, kalau dia menyelam dalam-dalam dan menghilang. Sampai jauh malam saya melihatnya berenang berkeliaran di telaga, dan sekali-sekali mendengar suaranya mengalun diatas air.

Di seberang sana, batang-batang kayu besar telah roboh dan terendam didalam air. Berapa tahun sudah batang-batang ini membusuk di dalam air? Diantara dedaunan hijau yang lebat dari pepohonan yang tumbuh tinggi, yang menutupi lereng-lereng gunung di sekitar sini, angin malam berdesis. Sang Rembulan muncul. Setelah sinar matahari, yang dengan tajam menampakkan bentuk-bentuk dari hutan dan telaganya, sinar rembulan mengaburkan semua keadaan.Sekarang puncak-puncak pepohonan tidak bergerak dan nampak samar-samar dilangit yang cerah.

Di atas punggung-punggung gunung kelap-kelip bintang bergelantungan. Di muka air telaga Sang Rembulan mulai memainkan sinar peraknya, menerangi bivak kami. Suatu malam tropik yang tenang mengendap diatas telaga gunung, yang sudah berabad-abad terlindung oleh dinding-dinding gunung, dan jarang sekali terganggu ketenangan tidurnya oleh kegaduhan manusia.”

Membaca tulisan Dr. Womser seperti membayangkan tempat indah di antah berantah. Pesona Danau Ranu Kumbolo yang digambarkannya sangat detil sesuai keadaan pada saat itu. Burung belibis, suasana sepi, damai tanpa kegaduhan manusia merupakan pemandangan langka yang saat ini jarang bisa kita temukan di Ranu Kumbolo.

ranu5
“Di seberang sana, batang-batang kayu besar telah roboh dan terendam didalam air.” (Dok : Tropen Museum Amsterdam-NL  )
ranu2
Sunyi, Sepi dan Damai. Ranu kumbolo saat itu (Dok : Tropen Museum Amsterdam-NL )
ransu8
Tenda, Pendaki Belanda & Porter Gunung Semeru (Dok : Tropen Museum Amsterdam-NL)
tanjakancinta
Ranukumbolo dan Tanjakan Cinta (Dok : Tropen Museum Amsterdam-NL)
ranu
Cermin Alam (Dok : Tropen Museum Amsterdam-NL)

Walau kondisi saat ini jauh berbeda dengan apa yang Dr. Womser alami. Akibat ”mendaki gunung” yang pada era modern sudah menjadi gaya hidup tersendiri, maka timbal baliknya keramaianlah yang akan kita jumpai di setiap gunung.

Menjadi tanggung jawab bersama untuk terus berupaya menjaga kelestarian dan keindahan alam. Jangan sampai kedatangan kita ke alam malah merusak atau memperparah keadaan yang sudah ‘rusak’. Bukan semata-mata agar anak cucu kita bisa turut menikmati keindahan Ranu Kumbolo, tapi ada hal yang lebih besar dari itu. Tatanan ekosistem, keseimbangan alam, keberlangsungan flora dan fauna yang menggantungkan hidup pada kelestarian Ranu Kumbolo jauh lebih penting. Karena mereka juga makhluk Tuhan yang berhak mendapatkan hidup.

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *