Burung Luntur Gunung, Nasibmu Kian Luntur Terurai Arus Peradaban

luntur-gunung-instagram-gunungindonesia
Credit Picture dutchbirding.nl

gunung – indonesia.com —  Luntur Jawa, Nasibmu kini kian ‘Luntur’ terpercik arus peradaban. Karena sempitnya habitat, ditambah makin maraknya kasus deforestasi dan pembukaan hutan untuk tujuan pertanian / perkebunan, industri, dan permukiman penduduk, spesies burung ini makin berada di ujung tanduk.

Nama latin hewan ini adalah Apalharpactes reinwardtii yang dalam bahasa Inggris kerap dikenal sebagai Javan Trogon atau Blue-tailed Trogon. Sedangkan di Indonesia selain dinamai luntur jawa dan luntur gunung terkadang disebut juga sebagai kasumba ekor biru. Suara burung luntur jawa agak parau dengan bunyi seperti “ciirr, ciirr” atau “turr” yang keras. Saat berkicau, burung endemik Indonesia ini menggerak-gerakkan ekor naik turun, ekor lalu dikembangkan dan dilipat.

Burung luntur gunung pemakan serangga dan beberapa jenis buah-buahan. Dalam satu masa kawin, burung ini hanya bertelur satu atau dua butir. Telur berwarna kuning tua. Telur dierami dalam sarang di lubang pohon yang dibuat burung lain. Berdasarkan data BirdLife International, populasi burung luntur jawa diperkirakan tinggal beberapa ratus pasangan saja. Di sekitar Gunung Gede-Pangrango dan Halimun, misalnya, jumlahnya diperkirakan tinggal 250 ekor. Adapun populasi total di sejumlah kawasan hutan pegunungan diperkirakan tidak lebih dari 1500 ekor

Mengingat kecilnya populasi burung luntur gunung dan semakin hilangnya habitat alami, IUCN Red List mengklasifikasikan burung dari ini dalam status konservasi Endangered (Terancam Punah). Sedangkan CITES, memasukkan burung ini dalam Apendix I yang berarti semua bentuk perdagangan antar negara dilarang.

Di Indonesia sendiri, burung ini termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan Satwa. “Kenali, Sayangi & Lindungi.”

Referensi :  IUCN Redlist, alamendah.org dan omkicau.com

Facebook Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *