Jangan Mendaki Secara Ilegal ! Ini 6 Resiko Yang Bisa Terjadi Jika Nekat Mendaki Ke Gunung Yang Sedang Ditutup Jalur Pendakiannya

gunung-indonesia.com —  Seperti yang kita tahu jalur pendakian di beberapa gunung Indonesia seperti gede pangrango, salak, guntur, prau, semeru, arjuno welirang, rinjani, kaba sedang dilakukan penutupan rutin guna pemulihan ekosistem dan antisipasi puncak cuaca ekstrem.

Kendati demikian, masih ada saja beberapa pendaki yang “gagal menahan rindu pada ketinggian” dengan mengunjungi gunung yang sedang ditutup secara sembunyi-sembunyi atau melewati jalur ilegal. Tindakan tersebut menurut mimin pribadi beresiko fatal bagi pendaki itu sendiri dan orang lain. “Lah emang ? Kok bisa ?” Berikut ini coba mimin tuliskan :

1 . Cuaca saat ini tak bisa diprediksi bahkan cenderung ekstrem.

Curah Hujan tinggi dan angin kencang diprediksi akan berlangsung hingga maret tahun 2017

Kawan-kawan sudah pada tahu kan gambaran cuaca gunung indonesia saat ini ? Kalau belum kamu bisa cek postingan instagram @gunungindonesia sebelumnya, disana ada kesaksian tentang cuaca gunung akhir-akhir ini dari mereka yang mendaki gunung di jalur pendakian yang masih dibuka untuk umum. 98 % dari mereka bersaksi, cuaca tak bisa diprediksi bahkan cenderung ekstrem. Bahkan tak sedikit equipment mereka seperti frame tenda patah diterjang angin.

2 . “Sedang pemulihan ekosistem”. Itu tandanya akan ada hewan liar bahkan hewan buas bebas menjelajah rumahnya.

Macan Tutul gunung Salak yang sering nampak saat penutupan jalur pendakian via foto.kompas.com

Sejatinya mereka seperti hewan dan tetumbuhan adalah penghuni sejati di alam bebas. Mereka punya hak untuk menikmati kesunyian, terbebas dari hiruk pikuk manusia. Kehadiran pendaki saat momen pemulihan ekosistem akan menggangu mereka dan dapat mengancam keselamatan pendaki itu sendiri.

3 . Potensi kecelakaan di gunung meningkat dengan resiko yang lebih fatal.

Evakuasi pendaki meninggal di jalur pendakian via regional.kompas.com

Cuaca tak menentu, gunung yang sepi dari pendaki (minim pertolongan bantuan), hewan buas berkeliaran menjadi 3 faktor resiko yg tak bisa dihindari jika kita mendaki gunung yg sedang ditutup.

4 . Dapat menyusahkan bahkan membahayakan tim SAR, pengelola gunung atau orang lain.

Beratnya kerja Tim SAR tak bisa dibayangkan

Tak ada pendaki yang mau celaka, tapi yang namanya celaka, atas kehendak-Nya bisa saja terjadi kepada siapapun. Apalagi jika ditambah persiapan pendaki yang minim, tentu hal tersebut semakin beresiko. Coba deh bayangin kalo kita jadi pengelola/volunteer atau tim SAR suatu gunung yang pada suatu ketika mendapati info kecelakaan pendaki di jalur pendakian yang jelas-jelas sedang ditutup, apalagi kalau kejadiannya di jalur ilegal. Hmmm.. Sedih pasti, kesel juga iya. Menyusahkan ? Tak usah dijelaskan lagi.

5 . View yang bagus dan pendakian yang menyenangkan hanyalah sebatas harapan.

maksud hati ingin dapat view bagus eh malah dapat dinding tembok

Namanya juga mendaki secara sembunyi-sembunyi, bawaanya gak enak hati, deg-degan sepanjang jalur pendakian, takut ketahuan. Sialnya pas nyampe puncak malah dapet pemandangan dinding tembok alias zonk. Gagal maning son~

6 . Di denda, di beri sanksi, di blacklist sementara bahkan selamanya oleh pengelola suatu gunung karena telah melanggar aturan.

blacklist pendaki jadi salah satu hukuman umum jika pendaki melanggar peraturan pengelola gunung

Untuk urusan sanksi setiap pengelola gunung menerapkan aturannya masing-masing. Bisa berupa materi, sanksi sosial, tidak diperkenakan mendaki gunung itu kembali (blacklist) menjadi contoh umum.

Nah sekarang udah jelas kan resiko-resikonya. Tahan dulu rindumu ya guys, hargai gunung kita untuk dapat bernafas, merawat dirinya, menikmati kensunyian. Semoga Sang Pencipta memperkenankan kita untuk dapat kembali mengunjungi salah satu ciptaan-Nya yang agung, di garis waktu milik-Nya nanti. Keep Safety and Comeback alive!

Facebook Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *