Pendaki Gunung Wajib Tau! 3 Gas Gunung Berapi Yang Berbahaya Bagi Keselamatan

gunung-indonesia.com — Berkegiatan di alam bebas penuh dengan resiko. Salah satu ancaman bahaya yakni aktivitas gunung Berapi yg sering kali mengeluarkan Gas beracun. Namun ancaman ini sering kita abaikan begitu saja karena minimnya pengetahuan tentangnya.  Nah, supaya kamu lebih waspada dan berhati-hati, kenali yuk 3 gas beracun tersebut !

1. Solfatara

Solfatara adalah gas sulfur/belerang yang keluar dari dalam bumi. Solfatara mudah dikenali karena baunya seperti telur busuk dan jika dalam tingkat konsentrasi tinggi dapat berbahaya bagi mahluk hidup. Asap Solfatara biasa kita temukan saat berada di kawah gunung berapi. Salah satu yang terkenal mempunyai konsentrasi solfatara tinggi yakni di Gunung Ijen

ijenpenambang
Penambang ijen berjibaku dengan Gas Solfatara via luckyramaster7.wordpress.com


Di ijen sendiri, Kematian akibat menghirup gas Solfatara dalam jumlah banyak beberapa kali santer terdengar. Jika hendak berkunjung ke tempat dengan konsentrasi solfatara yang tinggi, disarankan menggunakan kacamata, masker, terlebih masker N95 atau masker respirator dan menghindari kontak langsung pada asap-asap yang menyembul keluar.

95-horz
Contoh Masker N95 & Masker Respirator via google

 

2. Fumarol

Fumarol adalah hembusan gas vulkanik yang banyak mengandung uap air (H2O). Gas ini berasal dari air yang terdapat dicelah bebatuan atau dipermukaan bumi, kemudian terpanaskan oleh lava/magma sehingga terpancar keluar sebagai uap panas. Walaupun sering dianggap tidak beracun. Ternyata Fumarol mengandung karbon dioksida yang berbahaya jika terhirup berlebihan

fumarol
Gas Fumarol banyak mengandung uap air via wikipedia.org

3. Mofet

Mofet adalah hembusan gas vulkanik yg mengandung karbon monoksida. Tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan berakibat fatal jika terhirup dalam jumlah besar. Konsentrasi gas beracun ini meningkat di dalam kawah pada saat meletus, cuaca mendung, hujan, dan tidak ada angin. Maka sangat tidak disarankan berlama-lama di areal kawah saat tanda-tanda alam yg mempengaruhi peningkatan gas itu muncul

Para ahli mengatakan bahwa seseorang yang meninggal karena keracunan gas Karbon Monoksida (CO) dianggap terkena “silent killer”. Penderita biasanya merasa rileks dan berhalusinasi, mirip seperti penggunaan narkoba. Penderita keracunan ini sangat jarang bisa menyelamatkan diri dari kondisi yang penuh dengan gas CO. Bahkan kematian yang diakibatkan oleh keracunan gas CO dianggap sebagai “mati indah”.

Pencegahan & Pertolongan

Secara umum, gejala awal seseorang keracunan 3 gas tersebut seperti mual, muntah-muntah,lelah, batuk-batuk, pusing, pandangan kabur, kehilangan keseimbangan tubuh dan pingsan

Adapun pertolongan pertama secara umum jika seseorang keracunan 3 gas di atas antara lain :

1. Membawa penderita ke tempat berudara segar dan pastikan penderita dalam keadaan hangat
2. Pastikan penderita masih bernafas dengan cara check pada hidung, nadi dan denyut jantung
3. Longgarkan pakaian penderita agar mudah bernafas
4. Memberikan asupan oksigen murni (Oksigen botol Perlengkapan wajib saat mendaki)
5. Lakukan pernapasan buatan jika diperlukan (Berhati-hati saat memberikan nafas buatan, jangan sampai gas yang sudah terhirup penderita terhirup juga oleh penolong)

(Baca JugaIni Pentingnya Membawa Oksigen Portable Ketika Mendaki Gunung

Ketiga gas tersebut, baik Solfatara, Fumarol & Mofet dapat kita jumpai di setiap gunung-gunung berapi di Indonesia. Saat berada di areal kawah atau spot lain yang memiliki aktifitas vulkanik tidak diperkenankan berdiam diri dalam jangka waktu yang lama, mendekati semburan gas, merusak spot semburan gas serta berada di areal yang terjangkau gas vulkanik saat meletus, cuaca mendung, hujan dan tidak ada angin.

Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah kewaspadaan kita semua, khususnya bagi kamu yang menyenangi aktifitas outdoor seperti mendaki gunung. Keep safety and come back alive!

Facebook Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *