Setuju atau Tidak ? Mulai Tahun 2017 Botol Air Minum Kemasan dan Tisu Basah Dilarang Dibawa Ke Gunung Gede Pangrango

gunung-indonesia.com —  Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango per 31 Desember 2016 akan ditutup selama 3 bulan sampai 31 Maret 2017 untuk pemulihan ekosistem dan menghindari puncak cuaca Ekstrem yang berbahaya bagi pendaki. Demi menyongsong tahun 2017, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) selaku pengelola juga menyiapkan aturan terbaru yang melarang pengunjung membawa Botol Air Minum dalam Kemasan (AMDK) dan Tissue Basah karena dinilai sebagai sumber utama permasalahan sampah di Gunung Gede Pangrango.

Kepala Seksi Wilayah 1 TNGGP, Ardi Andono menuturkan, pihaknya akan menerapkan aturan larangan membawa botol AMDK dan tissue basah di kawasan TNGGP mulai April 2017 mendatang. “Mulai tahun depan kami akan terapkan regulasi baru tersebut. Pengunjung dan juga pendaki dilarang membawa botol AMDK dan tissue basah,” ujarnya dalam diskusi ‘Mewujudkan Kegiatan Petualangan yang Aman dan Ramah Lingkungan’, Lomba Kebut Gunung (LKG) Vanaprastha, di Balai TNGGP, Jumat 16 Desember 2016 yang dilansir dari pikiranrakyat.com,

Aturan tersebut menurut pengelola telah melalui kajian panjang lewat pendataan sampah-sampah yang mendominasi di kawasan Gunung Gede Pangrango yaitu Botol air kemasan dan Tissue Basah yang dapat mengancam kerusakan ekosistem khususnya pencemaran air Gunung Gede Pangrango yang selama ini berfungsi sebagai sumber mata air bagi masyarakat.

Sebelumnya, kami Mengapresiasi upaya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango selaku pengelola atas langkah-langkahnya dalam upaya menjaga kelestarian gunung Gede Pangrango. Namun TNGGP selaku pengelola harapanya dapat memberikan alternatif pengganti terhadap regulasi terbaru yang akan mulai diterapkan pada tahun 2017, yaitu pelarangan membawa Botol Air Minum dalam Kemasan (AMDK) dan Tissue Basah. Jika Botol air minum kita tau banyak cara untuk menggantinya seperti membawa jerigen dan botol minum (tumbler) berukuran besar. Sedang untuk Tisuee Basah juga ada cara konvensional lainnya, namun dalam konteks ‘Tissue Basah’ pengelola harus lebih berhati-hati lagi dalam memberikan solusi pengganti. Sebab jika pengelola ‘lengah’ atau salah langkah menerapkan solusi pengganti, sumber mata air khususnya yang sering dipakai masyarakat dan juga pendaki berpotensi disalahgunakan yang berujung pada pencemaran Sumber air mata.

Ya, kita nantikan saja informasi-informasi selanjutnya atas langkah baik  Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dalam menanggulangi permasalahan sampah gunung. Semoga solusi penggantinya efektif dan jika aturan tersebut berhasil, mungkin bisa juga diterapkan juga oleh pengelola gunung Indonesia lainnya.

Apa pendapat atau masukan dari kalian guys ? Setuju atau Tidak Setuju ?

Facebook Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *