Transparansi
Metodologi
Halaman ini menjelaskan bagaimana setiap jenis informasi di situs ini disusun, dan apa batasannya. Kami menulisnya supaya kamu bisa menilai sendiri seberapa jauh informasi di sini bisa kamu andalkan.
Ketinggian (mdpl)
Angka ketinggian kami ambil dari referensi yang paling umum dipakai lembaga resmi Indonesia, terutama Badan Geologi dan Badan Informasi Geospasial, dan kami periksa silang dengan basis data internasional seperti Global Volcanism Program milik Smithsonian Institution.
Kalau kami menemukan perbedaan angka yang signifikan antar sumber, kami mencantumkan angka yang paling umum dipakai dan menuliskan perbedaannya secara eksplisit di halaman gunung tersebut. Contohnya Gunung Agung, yang sering ditulis 3.142 mdpl tapi punya pengukuran ulang sekitar 3.031 mdpl.
Untuk gunung api yang bentuk puncaknya berubah setelah erupsi—Merapi, Kelud, Anak Krakatau, Sinabung—kami menyatakan secara terbuka bahwa angkanya tidak tetap.
Lokasi administratif
Kami mencantumkan provinsi dan kabupaten yang wilayahnya mencakup tubuh gunung, bukan hanya kabupaten tempat basecamp berada. Banyak gunung membentang di beberapa kabupaten sekaligus; Gunung Slamet, misalnya, menyentuh lima kabupaten. Menyebut satu kabupaten saja akan menyesatkan.
Koordinat
Koordinat yang kami cantumkan adalah posisi kira-kira puncak atau kawah utama, dibulatkan ke tiga desimal. Ini cukup untuk keperluan orientasi umum, tapi tidak untuk navigasi lapangan. Jangan memakai koordinat dari situs ini sebagai titik navigasi tunggal saat mendaki—gunakan peta topografi dan aplikasi navigasi offline.
Jalur pendakian
Daftar jalur kami susun dari informasi pengelola kawasan dan basecamp yang tersedia untuk publik. Kami mencantumkan nama jalur, desa atau kecamatan tempat basecamp berada, dan catatan karakternya.
Kami tidak mencantumkan jalur tidak resmi atau 'jalur tikus', bahkan ketika informasinya beredar luas. Alasannya sederhana: pendaki di jalur tidak resmi tidak tercatat di mana pun, sehingga kalau terjadi sesuatu, pencarian dimulai tanpa informasi apa pun.
Estimasi durasi
Angka durasi yang kami tulis adalah rentang untuk pendaki dengan kebugaran rata-rata yang membawa beban normal, disusun dari beberapa sumber yang kami bandingkan. Ini bukan janji dan bukan patokan.
Durasi sebenarnya sangat bergantung pada kebugaran, berat bawaan, cuaca, kondisi jalur, jumlah anggota kelompok, dan seberapa sering kamu berhenti. Kalau ini pendakian pertamamu, tambahkan 30–50 persen dari angka yang tertulis.
Tingkat kesulitan
Indonesia tidak punya sistem penilaian kesulitan pendakian yang resmi dan berlaku nasional. Karena itu kami tidak memberi skor angka atau bintang, karena skor semacam itu akan memberi kesan presisi yang sebenarnya tidak ada.
Yang kami lakukan adalah menjelaskan apa yang membuat sebuah jalur terasa berat: panjangnya, kemiringannya, jenis medannya, ketersediaan air, paparan angin, dan apakah ada bagian yang membutuhkan teknik khusus. Kata seperti 'ringan', 'menengah', atau 'berat' yang kami pakai adalah rangkuman dari faktor-faktor itu, bukan pengukuran.
Informasi perizinan dan biaya
Untuk sistem perizinan, kami mencantumkan mekanisme yang berlaku—registrasi di basecamp, SIMAKSI, atau booking online—beserta tautan ke sistem resmi kalau ada.
Untuk angka tarif, kami memilih pendekatan yang konservatif. Tarif kawasan konservasi diatur peraturan menteri dan berubah; tarif basecamp desa berbeda antar jalur dan bisa berubah kapan saja. Karena itu kami umumnya tidak mencantumkan angka rupiah spesifik dan mengarahkan pembaca ke sumber resmi. Kalau kami mencantumkan angka atau rentang, kami menyebutkan kapan kami memeriksanya.
Status vulkanik dan status jalur
Kami tidak mencantumkan level status gunung api pada halaman gunung, dan itu keputusan yang disengaja. Status bisa berubah dalam hitungan hari, sementara halaman web yang menampilkan status lama justru berbahaya karena terlihat meyakinkan.
Yang kami lakukan adalah menjelaskan bagaimana cara mengecek status resmi dan menautkan langsung ke MAGMA Indonesia serta pengelola kawasan pada setiap halaman gunung api.
Sumber
Kami memprioritaskan sumber primer: lembaga pemerintah, balai taman nasional, sistem perizinan resmi, dan publikasi lembaga ilmiah. Sumber sekunder kami pakai hanya untuk konteks yang tidak tersedia di sumber primer, dan tidak untuk angka atau fakta operasional.
Kami tidak menyalin kalimat dari sumber mana pun. Fakta kami periksa, lalu kami tulis ulang dengan penjelasan kami sendiri.
Batasan yang kami akui
- Kami tidak melakukan pengukuran lapangan sendiri. Semua data geografis berasal dari sumber lain yang kami periksa silang.
- Kami tidak punya akses waktu nyata ke sistem pengelola kawasan, sehingga informasi kuota dan status jalur di situs ini selalu tertinggal dari kondisi sebenarnya.
- Beberapa gunung punya informasi resmi yang sangat terbatas. Untuk gunung-gunung itu, halaman kami lebih pendek dan kami menyatakan ketidakpastiannya, bukan mengisinya dengan perkiraan.
- Deskripsi medan disusun dari beberapa sumber, bukan dari pengamatan langsung tim kami.